Rabu, 26 September 2018
Home / Penyalai / Tahukah Tuan di Mana Penyalai?

Tahukah Tuan di Mana Penyalai?

Tahukah tuan di mana Penyalai? Kalau tuan pernah pergi ke sana tentulah menjawabnya dengan fasih tentang seluk beluk negeri yang saya tanyakan itu. Mungkin tentang Pulau Mendul, gobak sagu, kebun kelapa, buah tematu, kue bangkit, negeri berpantai, cendol penyalai, joget tanjung selukup, Datuk Temakul dan lain sebagainya.

Tulisan ini tidak hendak menjelaskan tentang negeri di ujung batang Kampar itu dengan lengkap-pepat. Tapi sebagai anak negeri yang iba hati pada tanah airnya, tampaknya ada sesuatu yang hendak dilakukan untuk kampung yang masih menyimpan rasa dan resa bahasa Indonesia yang lemah gemalai di negeri itu, dan menurut salah-satu riwayat, konon induk bahasa Indonesia yang dipakai sekarang diambil dari penuturan masyarakat di salah-satu parit (kampung) yang tumbuh di Pulau Mendul tersebut pada masa dahulunya.

Secara geografis, negeri ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu juga dekat dengan negara  Singapura. Kini bangunan fisiknya, bila dibandingkan dengan Tanjung Batu, Kundur, Kepulauan Riau saja, negeri ini cukup tertinggal jauh. Di Pulau Mendul ini belum  dimasuki mobil, belum ada hotel berbintang, Bank, ATM, dan banyak lagi yang belum tersedia. Jika orang sini memerlukan semua fasilitas itu, mereka terpaksa berangkat naik speedboat ke Tanjung Batu yang hanya makan waktu sekitar duapuluh lima menit saja. Hal ini juga dilakukan oleh sebagian eksekutor dan legislator Pelalawan bila mereka bertugas di sini. Mereka bermalam di Tanjung Batu Kundur karena penginapan sini baru setakat kelas melati.

Oleh karena letaknya berada di sekitaran wilayah perairan Selat Melaka, tentulah negeri ini sesekali mendapat jelingan dan tumpuan mata dari negeri dan negara tetangga tersebut. Sebagai bangsa yang memiliki sejarah gemilang di masa lampau, sudah sepatutnya Kabupaten Pelalawan ingin dipandang gagah dan sasa di mata masyarakat sekitar Selat Melaka karena bagaimana pun, Kuala Kampar merupakan pintu gerbang Pelalawan dari mata dunia (Selat Melaka). Selain itu lagi, dari segi sejarah, kalau tidak menyimpan sesuatu yang unik dan misteri, kenapa pula Sultan Mahmud Syah dari tanah Semenanjung Malaya memilih jalur ini untuk bertapak di Pekantua? Kenapa tidak memudiki kuala Indragiri atau Sungai Jantan, Siak, lalu mencari negeri untuk membangun istana sayap?

Selain itu, potensi pariwisatanya pun perlu dikembangkan dan dibuat peta kerja secepatnya apalagi kawasan bono tidak begitu jauh dari sini. Jika turis dari mancanegara hendak singgah di Teluk Meranti tentulah lebih nyaman dan nikmat jika masuk dari jalur sini karena para turis tentulah ingin juga duduk semalam di Singapura, di Malaka di Batam dan Kundur.

Pun, membangun lembaga pendidikan yang lengkap dan sempurna seperti di Pangkalan Kerinci perlu digiatkan lagi di sini. Lembaga pendidikan agama Islam lebih harus diperhatikan karena, pertama, jika turis mengunjungi kawasan wisata bono tentulah bersentuhan langsung dengan masyarakat Kuala Kampar. Galibnya, kedatangan para turis asing sedikit banyaknya akan mempengaruhi prilaku masyarakat temapatan. Untuk itu, generasi muda perlu pondasi agama (akhlak) yang baik dan kuat. Kedua, pemelihara kesantunan dan keindahan nilai Melayu mutlak disampul oleh agama Islam. Makanya, memajukan lembaga pendidikan agama di daerah ini tidak hanya dibebankan kepada Kementerian Agama (Kemenag) saja tetapi juga kepada Pemerintah Daerah. MTS Kuala Kampar hemat saya perlu mendapat perhatian khusus dari Pemda Pelalawan.

Membangun dan memelihara kekayaan khazanah Melayu di Penyalai atau Kecamatan Kuala Kampar merupakan sesuatu yang mustahak segera dilakukan sesegera mungkin oleh semua sektor di Pelalawan karena negeri ini merupakan warisan Tuhan yang amat berharga demi kejayaan Melayu dan kabupaten Pelalawan di bentangan esok yang kian panjang.

(Pernah dimuat di Koran Riau 2014)

About AHMAD™

Ahmad Kurniawan Siddik adalah seorang blogger pemula yang banyak belajar dari dunia internet dan mengikat Ilmu dengan menuliskannya disini.

Lihat Juga

Pulau Mendol Penyangga Kebutuhan Beras Wilayah Perbatasan

Tim Kegiatan Perbatasan BPTP Riau, Dr. Rustam, Drs. Empersi, Ir. Oni Ekalinda dan Rizqi Sari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *